banner 728x250

DKL Gelar Temu Wacana 2025, Dorong Sinergi dan Penguatan Ekosistem Seni Budaya Lampung

banner 120x600
banner 468x60

Bandar Lampung, Inihari.idDewan Kesenian Lampung (DKL) menggelar Temu Wacana Dewan Kesenian se-Provinsi Lampung Tahun 2025 di Hotel Hexton, Bandar Lampung, Kamis (31/7/2025).
Kegiatan ini mengusung tema “Sinergitas dan Penguatan Ekosistem Seni Budaya melalui Dewan Kesenian dalam Merespons Tantangan Global.”

Dua narasumber hadir dalam diskusi tersebut, yakni Budayawan Lampung Iwan Nurdaya Djafar dan Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Deni Ribowo.
Acara dipandu oleh Iin Zakaria, Koordinator Komunitas Dongeng Dakocan Provinsi Lampung.

banner 325x300

Dalam paparannya, Deni Ribowo menyoroti keberagaman etnis di Provinsi Lampung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, sebanyak 65,80 persen penduduk Lampung berasal dari etnis Jawa, sedangkan etnis Lampung hanya 12,80 persen, disusul oleh Sunda 11,36 persen, Minangkabau 3,57 persen, Batak 2,13 persen, Bali 1,73 persen, dan lainnya 2,15 persen.
Meski suku Lampung bukan mayoritas di Lampung, kita tetap bisa menjaga kerukunan. Siapa pun boleh tinggal di Lampung, tapi budaya Lampung harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Deni juga berjanji akan menyampaikan seluruh masukan DKL kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Ia menilai, Gubernur memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian budaya daerah.
Gubernur ingin dipanggil Kiyay Mirza, dan Ibu Gubernur ingin dipanggil Batin Wulan. Ini sesuai semangat Perda Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Lampung. Mereka ingin mencontohkan dari hal kecil,” tutur politisi Demokrat tersebut.

Selain itu, Deni mendukung inisiatif regenerasi lagu anak-anak berbahasa Lampung yang diusulkan oleh Fasilitator Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pringsewu, Tian Hestiarto.
DKL ingin menggagas lagu anak-anak dengan konten Bahasa Lampung. Ini langkah bagus untuk melestarikan bahasa daerah sejak dini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Lampung, Prof. Satria Bangsawan, menilai bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak kini mulai dikenalkan pada bahasa dan kesenian daerah sejak taman kanak-kanak.
Cucu saya di TK sudah mementaskan tarian dan mengenal Bahasa Lampung. Saat masuk SD, mereka belajar seni rupa dan bahasa daerah. Ini bentuk kecintaan terhadap budaya sejak kecil,” ungkapnya.

Menurut Prof. Satria, pendekatan edukatif sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah pudarnya nilai-nilai lokal akibat pengaruh budaya luar.
Ia juga menegaskan pentingnya implementasi Perda Nomor 11 Tahun 2024, serta mendorong lahirnya art entrepreneur atau pelaku usaha berbasis seni.
Seni dan budaya bukan sekadar warisan, tapi aset ekonomi dan sosial yang punya dampak luas jika dikembangkan,” katanya.

Prof. Satria turut memperkenalkan program Cawa Lampung, gerakan yang mengajak masyarakat menggunakan Bahasa Lampung dalam percakapan sehari-hari secara santai sebagai bagian dari revitalisasi budaya lokal.
Ia menegaskan bahwa seluruh fasilitas Dewan Kesenian Lampung dapat digunakan secara gratis oleh pelajar, seniman, maupun masyarakat umum.
Forum seperti Temu Wacana ini harus terus berlanjut sebagai ruang kontribusi nyata bagi keberlanjutan seni dan budaya Lampung,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 400x130